Skip to main content

Strategi Untuk Mengatasi Krisis Membaca di Kalangan Pelajar di Indonesia

Untuk meraih hasil yang lebih baik dari yang sudah Anda peroleh, Anda harus menggunakan pendekatan berbeda. Mengharapkan hasil yang berbeda dengan melakukan hal yang sama terus menerus adalah tindakan gila. (Albert Einstein).

Image credit: https://readsmartlearning.com/struggling-readers-101-helping-children-learn-to-read/
Poin utama:
  1. Perbaiki praktik pembelajaran membaca dasar
  2. Transformasi budaya lisan menjadi budaya literasi
  3. Perbaiki sistem pendidikan
  4. Tingkatkan sarana dan prasarana membaca
  5. Bimbing siswa untuk menggunakan teknologi secara bijaksana
  6. Tingkatkan dukungan keluarga.

Artikel sebelumnya, Krisis Membaca: Biang Kerok Rendahnya Kualitas Pendidikan Indonesia, telah memaparkan bahwa pendidikan nasional Indonesia yang telah berlangsung hampir 75 tahun sukses secara kuantitas namun masih terpuruk di sisi kualitas. Penyebab utama rendahnya kualitas tersebut adalah krisis membaca. Pengabaian membaca sebagai fondasi dan faktor sukses pembelajaran berdampak langsung pada kualitas aspek pembelajaran lainnya. Jika minat dan kemahiran membaca krisis, aspek pembelajaran lainnya juga krisis. Dalam artikel Mengapa Pelajar Indonesia Krisis Membaca telah diidentifikasi enam penyebab krisis membaca di kalangan pelajar Indonesia.  Berdasarkan identifikasi itu, pembahasan dalam artikel ini fokus pada beberapa strategi untuk mengatasi krisis tersebut dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran.

Strategi pertama untuk mengatasi krisis membaca di kalangan pelajar Indonesia adalah memperbaiki praktik pembelajaran membaca dasar (learning to read). Dalam artikel sebelumnya diidentifikasi bahwa praktik pembelajaran selama ini belum berhasil mengembangkan minat dan keterampilan siswa untuk membaca dasar dan membaca untuk kesenangan. Penelitian ACDP (2012) mengungkapkan hanya 50% siswa kelas 3 dari 184 SD di 7 provinsi di Indonesia yang dapat membaca dengan lancar dan memahami sebagian besar isi teks yang dibaca, dan hanya 29% guru yang menggunakan metode yang efektif dan siswa aktif dalam pembelajaran membaca. Temuan ini mengindikasikan bahwa perbaikan pembelajaran membaca dasar di sekolah-sekolah dasar di Indonesia sangat mendesak untuk diwujudkan.

Membaca dasar adalah landasan bagi pengembangan ketiga tipe membaca lainnya. Secara umum, waktu terefektif untuk mempelajarinya adalah ketika anak-anak berusia 6 hingga 9 tahun. Itulah sebabnya periode ketika murid berada di kelas 1-3 SD harus dioptimalkan untuk penguasaan membaca dasar. Pembelajaran diawali dengan pemahaman tentang hubungan bunyi bahasa dan simbol tertulis, dekoding, dan pembangunan kosa kata dasar. Setelah itu, di kelas 2 dan 3, pembelajaran meningkat pada kelancaran membaca sambil memahami pesan (makna) dengan menggunakan teks yang tingkat kesulitannya semakin meningkat.
Aktivitas peningkatan kelancaran dan pemahaman di kelas 2 dan 3 tersebut sebaiknya difasilitasi dengan memulai program membaca untuk kesenangan (pleasure reading). Program ini dilaksanakan dengan cara menawarkan berbagai jenis buku cerita dengan gambar-gambar ilustrasi yang menarik. Murid dibebaskan untuk memilih buku yang mereka sukai. Di periode ini, menugaskan murid membaca buku teks yang sulit sebaiknya dicegah, karena hal itu bisa menimbulkan kesan bahwa membaca itu adalah pengalaman yang membebani. Akibatnya, murid kehilangan kesenangan ketika membaca. Jika di kelas 3 murid sudah memiliki sekitar 100 kosa kata umum yang memungkinkannya membaca sebuah cerita sederhana dengan lancar dan sekaligus memahaminya, di kelas 4 dan seterusnya pengembangan strategi/teknik membaca untuk belajar (reading to learn) dapat dimulai, sambil tetap menyelenggarakan program membaca untuk kesenangan.
Mengingat betapa pentingnya penguasaan keterampilan membaca dasar di kelas rendah SD, mengapa sebagian guru membiarkan sebagian murid mereka kurang menguasai keterampilan membaca dasar? Salah satu penyebabnya adalah pandangan bahwa kemahiran itu akan terbentuk secara alami seiring dengan semakin seringnya siswa bergumul dengan teks tertulis. Pandangan ini menganggap proses pemerolehan kemahiran membaca sama dengan kemahiran berbicara. Hasil penelitian terkini membuktikan pandangan ini keliru. Menurut Moats dan Tolman, komunikasi lisan sudah sangat lama digunakan masyarakat manusia hingga otak manusia, yang berevolusi sejak 100.000 tahun lalu, sudah beradaptasi penuh untuk memroses bahasa lisan. Ini yang menyebabkan anak manusia dapat menguasai Bahasa ibunya secara alami, tanpa perlu diajari. Bahasa tulis masih relatif baru. Schmandt-Besserat memaparkan bahwa sistim tulisan pertama, “cuneiform script” dibuat di Mesopotamia pada 3.200 SM sedangkan alfabet dibuat pada tahun 1.500 SM. Jadi, manusia mulai membaca tulisan yang menggunakan alfabet sejak 2.500 tahun lalu, dan otak manusia belum berevolusi untuk mengenalnya. Oleh karena itu, membaca dan menulis tidak dapat dikuasai secara alami tetapi harus diajarkan.
Dengan memastikan bahwa murid-muridnya berhasil menguasai keterampilan membaca dasar dengan baik dan tepat waktu, guru sudah membantu mereka mereka membangun landasan yang kokoh untuk mengembangkan ketiga tipe membaca lainnya. Makenzi (2004) menegaskan bahwa kurangnya penguasaan keterampilan membaca dasar membuat jutaan anak-anak di negera berkembang tidak mampu membangun keterampilan membaca selanjutnya seperti yang dinikmati oleh teman-teman sebaya mereka di negara-negara maju. Oleh sebab itu, tanpa mengurangi esensi mata pelajaran lainnya, penguasaan kemampuan membaca dasar perlu diberikan prioritas di kelas rendah sekolah dasar.
Strategi kedua adalah mentransformasi budaya lisan menjadi budaya literasi. Secara historis, budaya Indonesia memang tidak berorientasi pada komunikasi tertulis. Tulisan-tulisan kuno yang diperoleh dari berbagai wilayah Indonesia didominasi oleh naskah religius, bukan catatan ilmu pengetahuan. Selain itu, yang berhak membaca naskah-naskah itu hanyalah pemuka agama, pendeta atau rahib. Anggota masyarakat mempelajari ajaran-ajaran dalam naskah tersebut melalui khotbah atau ceramah.
Kebiasaan ini masih berlangsung dalam berbagai bentuk aktivitas masyarakat hingga saat ini. Mayoritas masyarakat lebih suka menonton ‘talkshow’, termasuk yang membahas hal-hal tidak penting seperti gossip, dan senangng ‘ngobrol’ daripada membaca. Untuk memperdalam pemahaman agama, mayoritas kita juga lebih suka mendengarkan khotbah, ceramah, atau orasi. Di lembaga pendidikan, metode ceramah masih mendominasi. Sebagian besar akademisi bahkan lebih senang mengikuti seminar di berbagai tempat yang jauh daripada membaca buku dan referensi. Padahal sudah diketahui secara umum bahwa kualitas pengetahuan yang diperoleh melalui membaca jauh lebih lengkap dan dipahami daripada melalui ceramah dan seminar.
Dari perspektif sosiologis, Comte (2018) membagi perkembangan peradaban manusia ke dalam tiga tahap: teologis, metafisik dan positif.  Al-Zastrouw menguraikan bahwa selama tahap teologis, kebudayaan ditandai oleh mitos dan tahayul sebagaimana tercermin dalam masyarakat primitif. Tahap metafisik didominasi dengan kepercayaan akan hukum-hukum alam yang asasi yang dapat diterima akal budi, sedangkan tahap positif ditandai oleh kepercayaan akan data empiris sebagai sumber pengetahuan. Budaya oral pada hakikatnya berada pada transisi antara tahap teologis menuju tahap metafisik. Dengan demikian, masyarakat yang mengutamakan budaya oral masih jauh dari masyarakat modern yang positifistik dan mempersyaratkan literasi. Jadi, jika bangsa Indonesia ingin berkiprah dalam masyarakat modern, diperlukan transformasi dari dominasi budaya oral ke dominasi budaya baca.
Transformasi budaya ini tentu tidak dapat dilakukan oleh sekolah saja. Pemerintah dan lembaga-lembaga agama, sosial, dan adat berperan penting. Al-Zastrouw mengusulkan dua strategi, soft culture dan hard culture, untuk mewujudkan transformasi itu. Kedua strategi itu dilaksanakan secara serentak dan berkesinambungan. Soft culture dilakukan melalui eksplorasi dan pengembangan berbagai ajaran dan nilai-nilai agama, adat, petuah dan tradisi yang bisa mendorong tumbuhnya budaya baca. Strategi hard culture dilakukan melalui penyediaan fasilitas-fasilitas yang mendorong tumbuhnya minat baca di kalangan masyarakat, seperti beragam buku yang mudah diakses oleh masyrakat, perpustakaan yang nyaman dengan pelayanan yang mudah dan menyenangkan, dan acara-acara yang memotivasi masyarakat membaca buku.
Strategi ketiga adalah memperbaiki sistem pendidikan, khususnya di bidang tujuan dan proses pembelajaran. Selama ini ada anggapan yang keliru tentang esensi pendidikan di sekolah formal. Banyak anggota masyarakat, pihak pemerintah, guru maupun pelajar di semua jenjang pendidikan di Indonesia memandang tujuan belajar adalah untuk lulus ujian dengan skor setinggi mungkin dan memperoleh ijazah. Dalam istilah Raka, sekolah diperlakukan sebagai pabrik yang mempekerjakan “mesin” bernama guru, dan menggunakan sistem produksi bernama kurikulum dan memproduksi lulusan dengan skor UN sebagai standar kualitas diukur melalui nilai ujian nasional.  Dalam praktik, pandangan ini terimplementasi melalui penyelenggaraan ujian nasional (UN) dan kegemaran bangsa kita melaksanakan/mengikuti lomba cerdas cermat atau olimpiade. Kedua jenis aktivitas ini secara langsung dan tidak langsung telah menegaskan bahwa tujuan belajar adalah agar mampu mengerjakan soal tes (ujian).
Pandangan seperti itu membuat kebanyakan guru lebih mengutamakan penuntasan seluruh materi ajar dengan harapan siswa lebih siap menghadapi ujian. Agar materi pembelajaran bisa diselesaikan, guru pada umumnya menggunakan metode ceramah karena cara seperti ini dirasakan lebih mudah dan cepat. Oleh sebab itu, para pelajar tidak memiliki kesempatan untuk membaca untuk kesenangan dan tidak perlu membaca kritis dan mendalam (deep reading). Mereka cukup mendengarkan penjelasan guru, mencatat atau membuat ringkasan materi dan rumus-rumus (rote learning), menghapal ringkasan dan rumus tersebut, dan lalu berlatih mengerjakan soal (drilling). Dengan metode pembelajaran seperti itu, guru yang melaksanakan Peraturan Mendikbud No. 23 Tahun 2015, tentang kewajiban semua siswa membaca 15 menit sebelum sebuah pembelajaran dimulai, sangat sedikit. Kebanyakan guru menganggap praktik itu hanya mengurangi waktu untuk menyelesaikan ‘target’ penyelesaian materi.
Terkait dengan permasalahan ini, penghapusan ujian nasional (UN) sebagai salah satu upaya mewujudkan kebijakan merdeka belajar oleh Mendikbud Nadiem Makarim perlu dipandang sebagai kesempatan untuk meningkatkan kesempatan bagi siswa meningkatkan minat dan keterampilan membaca. Penghapusan UN dan pemberian mandat kepada guru melakukan penilaian memberi ruang besar bagi guru untuk menerapkan students-centered learning. Dikombinasi dengan metode pembelajaran yang sesuai dan penggantian pola evaluasi dari soal ujian objektif menjadi pembuatan produk, penulisan makalah, maupun pembuatan laporan, siswa akan secara aktif memperkaya pengalaman untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan, termasuk melalui aktivitas membaca. Dalam konteks ini, Flipped Learning sangat direkomendasikan untuk diterapkan mulai kelas tinggi SD hingga perguruan tinggi dalam rangka mewujudkan pembelajaran berpusat pada siswa, mendorong siswa untuk banyak membaca, dan sekaligus mengembangkan keterampilan berpikir mereka.
Strategi ke empat adalah meningkatkan sarana dan prasarana membaca. Ketersediaan berbagai buku yang menarik dan tempat membaca yang nyaman akan sangat mendorong siswa membaca untuk kesenangan. Di berbagai negara maju, membaca untuk kesenangan di kalangan siswa terwujud karena buku-buku yang menarik bagi mereka tersedia tidak hanya di perpustaan sekolah namun di ruangan kelas juga. Sebaliknya, Fayose (2003) melaporkan bahwa remaja di Nigeria tidak membaca untuk kesenangan karena mereka tidak menemukan buku yang menarik bagi mereka. Mayoritas (85%) remaja yang diteliti menyatakan mereka tidak mengunjungi perpustakaan karena koleksi buku yang ada tidak sesuai dengan minat mereka.
Selama ini, pengembangan perpustakaan sekolah dan pengadaan buku yang beragam dan menarik bagi pelajar belum menjadi prioritas. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kebanyakan sekolah di wilayah terpencil belum memiliki perpustakaan yang memadai. Bahkan perpustakaan sekolah di kota-kota besar juga belum dikelola dengan baik. Koleksi buku yang dimiliki cenderung hanya berupa buku teks. Buku-buku yang menunjang membaca untuk kesenangan sangat terbatas. Kalaupun ada, kebanyakan merupakan terbitan lama dan sudah lusuh. Padahal, untuk menumbuhkan minat membaca, pelajar harus terlebih dahulu membaca untuk kesenangan, dan hal ini dapat terwujud jika mereka difasilitasi dengan banyak buku yang variatif dan menarik, yang dapat ‘diraih’ kapan saja.
Sebagai ilustrasi, dengan asumsi bahwa untuk memfasilitasi pengembangan membaca untuk kesenangan siswa di satu level (kelas) perlu difasilitasi 1 buku cerita per minggu, maka dalam setahun dibutuhkan 50 judul buku cerita untuk level itu. Jika program tersebut dilakukan mulai kelas 3 hingga kelas 12 maka setahun diperlukan 50 judul X 10 kelas= 500 judul buku. lalu, agar siswa di tiap level dapat memilih satu dari banyak buku setiap minggu, jumlah judul buku di tiap level bisa digandakan 10 kali lipat, hingga judul buku yang diperlukan menjadi 5000. Buku sebanyak ini sebenarnya dapat disediakan dalam waktu tidak terlalu lama. Cara pertama yang dapat ditempuh adalah penulisan cerita rakyat dari berbagai daerah yang sesuai untuk pendidikan, penerjemahan karya-karya sastra dan non-fiksi dunia ke dalam Bahasa Indonesia, dan adaptasi karya-karya sastra klasik Indonesia ke dalam Bahasa Indonesia masa kini. Cara kedua adalah mendorong sastrawan-sastrawan dan penulis non-fiksi Indonesia berkarya lebih produktif, baik melalui lomba maupun pemberian insentif yang layak. Jika dua cara ini dilaksanakan selama 5 tahun, sangat terbuka kemungkinan bahwa perpustakaan sekolah di Indonesia sudah memiliki 5000 judul buku untuk digunakan siswa mengembangkan minat membaca untuk kesenangan mereka.
Strategi kelima adalah membimbing siswa untuk menggunakan teknologi informasi secara bijaksana. Teknologi akan sangat bermanfaat jika digunakan sebagai sarana untuk mengakses, menyimpan, dan membaca buku teks, artikel, novel, cerita pendek, dan dokumen lainnya dalam bentuk dijital. Teknologi juga sangat efektif digunakan sebagai sarana berdiskusi dan bertukar gagasan dengan orang lain. Sebaliknya, teknologi akan sangat merugikan bila sarana itu digunakan siswa hanya untuk mengakses ringkasan agar tidak perlu membaca buku yang ditugaskan guru atau meng-“copy-paste” tulisan orag lain untuk menyelesaikan tugas dari guru.
Penelitian terkini tentang perbedaan efektivitas membaca teks cetak dan teks dijital untuk pemahaman belum memberikan hasil yang konklusif. Sebagian peneliti melaporkan bahwa teks dijital lebih efektif digunakan untuk pemahaman siswa, sedangkan penelitian lainnya menyatakan teks cetak lebih efektif. Namun karena teks dijital masih merupakan fenomena yang sangat baru, banyak peneliti mengusulkan agar aktivitas membaca dengan teks yang panjang dan kompleks (buku teks dan novel) dilakukan dengan menggunakan teks cetak. Sedangkan teks yang pendek dapat dibaca dengan efektif dengan menggunakan teknologi. Dengan kata lain, pemanfaatan teks cetak dan dijital perlu dilakukan secara bijaksana.
Strategi keenam adalah meningkatkan dukungan keluarga. Dukungan keluarga untuk meningkatkan minat membaca siswa dapat dilihat dalam dua bentuk. Pertama, orangtua perlu ikut serta memotivasi dan menanamkan minat membaca kepada anak-anak mereka dengan cara membacakan cerita kepada anak masing masing yang masih bersekolah di TK atau kelas rendah SD, bersedia mendengarkan sewaktu anak masing-masing membaca sebuah cerita, dan memberikan waktu untuk berdiskusi atau menanggapi pertanyaan anak mereka tentang buku yang dibaca. Kedua, setelah siswa mulai membaca secara mandiri (kelas 2 atau 3), orangtua perlu turut memfasilitasi mereka dengan banyak bacaan variatif yang sesuai dengan usia mereka. Sehubungan dengan itu, membelikan buku-buku yang baik sebagai hadiah ulang tahun atau perayaan lainnya perlu dipikirkan. Bahkan, keteladanan yang diwujudkan dengan cara membaca secara rutin juga sangat memotivasi siswa.
Membaca adalah aktivitas kompleks yang melibatkan banyak faktor, sehingga upaya untuk mengembangkan minat membaca di kalangan pelajar Indonesia perlu melibatkan berbagai strategi dalam rangka mensinerjikan faktor dan pihak yang terlibat. Artikel ini, berdasarkan identifikasi masalah yang dilakukan sebelumnya mengajukan enam strategi, yakni: (1) memperbaiki praktik pembelajaran membaca dasar; (2) mentransformasi budaya lisan menjadi budaya literasi; (3) memperbaiki sistem pendidikan; (4) meningkatkan sarana dan prasarana membaca; (5) membimbing siswa untuk menggunakan teknologi secara bijaksana; dan (6) meningkatkan dukungan keluarga. Keenam strategi ini bersifat global, dan rincian implementasinya harus dirumuskan dengan melibatkan para pengampu kepentingan.

Apa pendapat Anda tentang isi artikel ini? Silahkan tuliskan pandangan Anda pada bagian "Comments" di bawah.

Versi Bahasa Inggris artikel ini dapat dibaca di sini


Author: Parlindungan Pardede (parlin@weedutap.com)



Comments

Popular posts from this blog

Flipped Classroom: Model Pembelajaran Campuran yang Efektif

Pendahuluan Flipped classroom adalah inovasi metode pembelajaran terbaru di era dijital. Metode ini merupakan salah satu model blended learning yang begitu efektif hingga para pendidik yang sedang mempersiapkan diri melaksanakan blended learning direkomendasikan untuk menggunakannya. Penelitian mengungkapkan metode ini sangat efektif untuk mengubah siswa dari pasif menjadi menjadi aktif, dari pembelajar yang ‘ogah-ogahan’ menjadi bertanggungjawab untuk menguasai konten pembelajaran, karena metode ini mengaktivasi dan mengembangkan keterampilan berpikir siswa, baik secara mandiri maupun kolaboratif. Dengan metode ini, guru lebih berperan sebagai fasilitator, pembimbing dan motivator.  Hakikat Flipped Classroom Sesuai dengan namanya, ‘flipped’, yang bermakna ‘membalikkan pola, posisi, urutan, susunan, atau arah sesuatu, flipped classroom merupakan metode pembelajaran yang membalikkan atau mengubah pola pembelajaran tradisional. Karena kata ‘flipped’ bersinonim dengan ‘inverted’

Terrorized by Coronavirus Pandemic: Do we need Superheroes?

We need superheroes because their role models motivate us to be aware that any of us is capable of becoming a superhero, and by collaborating, we can fight any disaster that threats the world. The coronavirus hit the world by surprise and keeps on spreading like wildfire across the globe. Only in four months, it has been affecting more than 200 countries and territories around the world, infecting more than 2 million people and killed more than 140,000. To limit the number of people’s exposure to the virus to slow down its spread, some countries or zones are locked down, offices, schools, and public places are shut, and our lives are on hold. Many people are despondent because they cannot meet their beloved ones. Some others are depressed about being unable to do the routines they used to have. Some even think their freedom is robbed. The sheer terror and horror of this fast-moving infection are intensified when we hear that the number of death it causes keeps on increasing so sh

In times of Coronavirus pandemic, we can make a difference.

Practicing kindness to others not only enables us to make a difference but also makes us happier and  stimulates others to perform kindness. COVID 19 hit the world by surprise and is quickly spreading like wildfire across the globe. Up to the time this article was written, it has been infecting more than 3 million people, causing more than 200,000 deaths, and sending billions of people into the stay at home or lockdown to help 'flatten the curve' of infections. And since it is a new virus, we now have only relatively limited information about it and there is no yet vaccine or preventative treatment for it. Having limited knowledge and seeing its devastating effects, it is understandable why people are anxious and frightening.  What can we do in such a critical moment? Should we just let our governments do everything? No! Precisely while facing a radical crisis and when survival is threatened by an insurmountable problem that we have a great opportunity to do good to make