Skip to main content

Pengembangan Keterampilan Berpikir dalam Blended Learning


Image Credit: https://linkstaffing.com/how-to-master-a-new-skill-4-lessons-simplified/

Naskah ini merupakan bagian kedua dari Modul 1 yang digunakan dalam Pelatihan Membangun Blended Learning yang diselenggarakan oleh FKIP UKI pada tanggal 20 Juli-4 Agustus 2020. Mudul pertama dapat diakses di sini. Sedangkan bagian ketiga di sini, dan bagian ke empat di sini.

Proses Pembelajaran dalam Pikiran
Konfusius pernah mengatakan, “Pembelajaran tanpa berpikir adalah sia-sia. Berpikir tanpa belajar, berbahaya.” Pembelajaran dan berpikir tidak terpisahkan, karena, seperti telah dinyatakan sebelumnya, setiap pembelajaran berlangsung dalam pikiran. Untuk menjelaskan konsep ini, Barton (2018) menyajikan sebuah model sederhana yang membagi pikiran yang digunakan dalam pembelajaran ke dalam dua wilayah: memori jangka panjang (long term memory) dan memori operasional (working memory) (Lihat gambar 5). Memori jangka panjang merupakan tempat penyimpanan informasi dengan kapasistas tak terbatas. Di tempat ini informasi disimpan melalui secara terorganisir melalui hubungan, kaitan, kesamaan atau kontras antara satu informasi dengan yang lain. Semakin erat kaitan-kaitan tersebut, semakin mudah informasi diakses kapan saja. Secara keseluruhan, informasi tersebut membentuk pengetahuan. Memori operasional merupakan tempat berlangsungnya proses berpikir, termasuk menerima, menyeleksi, dan mengklasifikasikan informasi agar dapat dikaitkan dan diintegrasikan dengan pengetahuan yang sudah tersimpan dalam memori jangka panjang. Berbeda dengan memori jangka panjang, memori operasional memiliki kapasitas yang sangat terbatas. Itu sebabnya kita tidak dapat melakukan “multi-tasking” secara optimal. Memori operasinal paling efektif digunakan jika kita fokus memikirkan satu hal.


Gambar 5. Pikiran yang Digunakan Dalam Pembelajaran (Barton, 2018, h. 47)
Sebagaimana telah diuraikan berdasarkan teori konstruktivisme, Penambahan pengetahuan terjadi ketika sesorang memperoleh pengalaman baru yang kemudian dipahami dan dihubungkan dengan pengetahuan yang sudah dimiliki. Dihubungkan dengan konsep Barton di atas, pembelajaran bergantung kepada tiga faktor: pengalaman atau informasi baru (dari luar), pengetahuan yang tersimpan dalam memori jangka panjang, dan kapasitas yang dimiliki memori operasional. Jika salah satu dari tiga faktor itu lemah, pembelajaran tidak akan berlangsung optimal, bahkan gagal.

Pengalaman atau informasi baru (yang akan dipahami dan kemudian disimpan dalam memori jangka panjang) dapat diperoleh melalui bergai cara dan media, seperti mendengar ceramah, membaca, menonton video, melakukan eksperimen, mengunjungi objek yang dipelajari, dan sebagainya. Agar pembelajaran lebih efektif, penerimaan informasi sebaiknya disesuaikan dengan satu atau perpaduan beberapa tipe inteligensi paling dominan yang dimiliki oleh siswa. Gardner (1998) membagi inteligensi ke dalam 8 tipe: verbal-linguistik, logika matematis, visual dan spasial, musical, interpersonal, intrapersonal, kinestetik, dan naturalis. Malalui aktivitas pembelajaran daring, dengan memilih media yang tepat, semua kecerdasan itu dapat difasilitasi (Lihat Tabel 1 sebagai contoh). Dengan demikian, siswa dapat memilih satu atau lebih media yang sesuai dengan tipe kecerdasannya.
Seperti telah disinggung sebelumnya, memori jangka panjang berperan sebagai tempat menyimpan pengetahuan yang dapat diakses kapan saja. Kapasitas memori jangka panjang ini sangat bergantung pada ingatan (yang dapat kita akses hanyalah pengetahuan yang kita ingat), dan kemampuan mengingat ditentukan oleh pemahaman dan hubungan atau kaitan antar informasi. Pemahaman mutlak diperlukan, karena kita dapat mengingat sesuatu yang kita pahami jauh lebih mudah daripada yang tidak kita pahami. Sehubungan dengan itu, untuk mengoptimalisasi kapasitas memori jangka panjang, kemampuan memahami dan mengaitkan informasi perlu ditingkatkan terus menerus. 

Pembelajaran dan Keterampilan Bepikir
Pembelajaran tidak cukup hanya sampai pada kemampuan menyimpan dan mengakses informasi dari memori jangka panjang. Tujuan pembelajaran bukan hanya memperoleh dan menyimpan informasi tetapi juga mengembangkan keterampilan berpikir. Berdasarkan Taksonomi Bloom (Andeerson & Krathwohl, 2001), keterampilan berpikir dibagi kedalam dua tingkatan: Lower Order Thinkings (LOTs), yang terdiri dari mengingat dan memahami dan Higher Order Thinkings (HOTs), yang mencakup mengaplikasikan, menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan (Gambar 6). Kemampuan memperoleh dan menyimpan informasi hanya melibatkan LOTs, sedangkan HOTs belum dilibatkan.

Pembelajaran yang diarahkan untuk mengembangkan HOTs perlu dilakukan karena perpaduan HOTs dan pengetahuan akan memampukan siswa memecahkan masalah yang dihadapi sehari-hari, mengambil keputusan, dan menciptakan sesuatu yang baru secara kreatif. James (dalam Carr, 2017) menjelaskan bahwa otak kita mengkonstruksi ide-ide baru serta memunculkan pemikiran kritis dan konseptual dengan cara membentuk asosiasi intelektual yang kaya diantara pengetahuan (konsep-konsep) yang tersedia dalam memori jangka panjang kita. Jadi, pengembangan HOTs hanya dapat dilakukan dengan cara mengakses pengetahuan yang telah tersimpan dalam memori jangka panjang dan kemudian memrosesnya melalui aktivitas-aktivitas yang melibatkan keterampilan mengaplikasikan, menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan.
Gambar 6. Taksonomi Bloom dalam BL

Taksonomi Bloom dalam BL Skenario untuk mengaktivasi seluruh tingkatan berpikir yang digagas Bloom (lihat Gambar 4) dalam BL dapat diilustrasikan sebagai berikut. Skenario ini hanya sebuah ilustrasi. Setiap guru dapat melakukan modifikasi kreatif agar desain pembelajaran lebih sesuai dengan karakteristik mata pelajaran dan lingkungan pembelajaran yang tersedia.  Seperti terlihat dalam Gambar 6, tahap awal pembelajaran dilakukan dengan meminta siswa melakukan aktivitas mandiri untuk memperoleh pengalaman baru. Aktivitas pada tahap ini berlangsung secara OL. Siswa diminta membaca modul, sebuah bab buku teks, menonton video ceramah dosen, mengakses dan mempelajari artikel yang tersedia di LMS atau ditelusuri sendiri di internet, mempelajari poster, peta pikiran, dan sumber belajar lainnya yang menyajikan pokok bahasan yang harus dipelajari. Aktivitas pada tahap ini melibatkan dan mengembangkan LOTs (mengingat dan memahami). Jika siswa menemui kesulitan untuk memahami informasi tertentu, dia bisa bertanya kepada guru atau teman melalui forum diskusi di LMS. Ditinjau dari konsep konstruktivisme, hasil akhir dari aktivitas pembelajaran di tahap ini adalah terbentuknya konsep abstrak dari pengalaman yang baru saja dipelajari.

Jika dianggap perlu, setelah selesai mempelajari pokok bahasan yang ditugaskan, siswa dapat diminta mengerjakan kuis daring di LMS untuk memeriksa tingkat pemahamannya. Jika siswa belum mencapai ‘passing grade’, misalnya skor minimal 80, dia dapat diminta mempelajari kembali pokok bahasan tersebut. Jika semua siswa sudah mencapai passing grade, berarti mereka sudah siap untuk mengerjakan aktivitas tahap kedua.

Aktivitas tahap kedua diselenggarakan melalui F2FL, baik di ruang kelas, di lapangan, maupun di laboratorium. Tahapan ini melibatkan dua keterampilan berpikir, yakni mengaplikasikan dan menganalisis dengan cara menerapkan konsep astrak yang dibentuk dalam tahap sebelumnya. Tahap ini dapat dilakukan dalam kerja kelompok atau dibawah bimbingan guru dengan melakukan aktivitas seperti mengedit teks, melakukan simulasi, mengerjakan soal, menerapkan analysis SWOT, dan sebagainya. Setelah dapat menggunakan konsep baru yang dipelajari dalam aktivitas menerapkan dan menganalisis, berarti siswa sudah menguasai konsep itu secara mendalam dan siap menggunakannya untuk mengevaluasi fenomena terkait dan menciptakan produk terkait di tahap ketiga.

Tahap ketiga juga diselenggarakan melalui F2FL. Karena tahap ini diarahkan untuk mengaktivasi keterampilan “mengevaluasi” atau menilai keputusan atau tindakan yang diambil, dan “menciptakan” (memformulasikan ide, atau membuat produk maupun metode untuk melakukan sesuatu), aktivitas yang sesuai adalah penugasan atau proyek yang dapat dikerjakan secara individu maupun berkelompok. Karena penyelesaian sebuah proyek membutuhkan waktu yang relatif panjang hingga dibutuhkan lebih dari satu sesi F2FL untuk menyelesaikannya, siswa dapat didorong untuk berdiskusi di LMS selama periode Antara dua sesi F2FL. Tahap ini dapat diakhiri dengan meminta siswa melakukan presentasi atau mendemonstrasikan produk yang dihasilkannya.

Tabel 2 menyajikan beberapa aktivitas alternatif yang dapat diterapkan dalam kelas BL ditinjau dari sisi aktivasi berpikir dalam taksonomi Bloom. Daftar ini tidak mencakup semua aktivitas untuk semua jenis mata pelajaran. Daftar ini dimaksudkan hanyauntuk menginspirasi guru dalam memilih aktivitas pembelajaran. Guru tentu saja harus memilih aktivitas yang sesuai dengan tujuan, sasaran, dan konten pembelajaran kelas yang diampunya.
Agar ilustrasi di atas lebih konkrit, berikut ini diuraikan pelaksanaan aktivitas BL yang mengaktibasi keterampilan berpikir sesuai dengan Taksonomi Blom dalam sebuah kelas Bahasa Indonesia. Kelas tersebut akan mempelajari topik "Menulis Alinea".

Pada tahap awal pembelajaran, siswa melakukan aktivitas mandiri untuk memperoleh pengalaman baru, yakni tentang hakikat paragraph, jenis-jenis kalimat pembentuk alinea (kalimat topik, kalimat pendukung, dan kalimat kesimpulan), langkah-langkah  menulis alinea (pra-penulisan, membuat draf, merevisi, menyunting, dan mempublikasikan) dan berbagai contoh alinea. Pemerolehan pengalaman baru itu dilakukan dengan cara membaca modul dan/atau menonton video tentang alinea yang telah disiapkan guru dalam LMS. Sewaktu mempelajari modul dan video tersebut, siswa mengaktivasi dua keterampilan LOTs, yakni 'mengingat' dan 'memahami. Jika ada siswa yang menemui kesulitan untuk memahami informasi tertentu, dia bisa bertanya kepada guru atau teman melalui forum diskusi di LMS. Ditinjau dari konsep konstruktivisme, hasil akhir dari aktivitas pembelajaran di tahap ini adalah terbentuknya konsep abstrak tentang alinea dan penulisannya dalam pikiran siswa.

Untuk melihat tingkat pemahaman para siswa tentang topik tersebut, setelah periode mempelajari modul dan video berakhir, semua siswa diminta mengerjakan kuis daring di LMS. Karena kuis bersifat real time, hasilnya dapat langsung dilihat. Jika ternyata ada siswa yang belum mencapai passing grade yang telah ditentukan, misalnya skor minimal 80, siswa itu dapat diminta mempelajari kembali pokok bahasan tersebut sambil dibimbing, secara OL, memahami bagian-bagian yang masih sulit. Dia kemudian diminta mengerjakan kuis dengan tingkat kesulitas yang sama dengan yang sebelumnya. Setelah semua semua siswa mencapai passing grade, semua siswa diminta mengerjakan aktivitas tahap kedua.

Aktivitas tahap kedua diselenggarakan melalui F2FL di ruang kelas melibatkan keterampilan berpikir ‘mengaplikasikan’ dan ‘menganalisis’. Siswa belajar dalam kelompok yang terdiri dari 3 hingga 4 orang. Semua kelompok diberikan 3 alinea untuk dianalisis apakah masing-masing alinea memiliki unsur-unsur yang lengkap. Setiap kelompok kemudian diminta mempresentasikan temuan masing masing, sedangkan kelompok lain menanggapi. Setelah itu, setiap kelompok diberikan sebuah alinea yang susunan kalimat-kalimatnya acak dan memiliki berbagai kekurangan. Masing-masing kelompok ditugaskan mengedit dan merevisi alinea tersebut agar menjadi lebih baik. Pembelajaran diakhiri dengan meminta setiap kelompok mempresentasikan alinea yang telah diedit dan direvisi serta menjelaskan apa saja yang dilakukan dalam proses mengedit dan merevisi alinea itu.

Tahap ketiga juga diselenggarakan melalui F2FL dan mengaktivasi keterampilan ‘mengevaluasi’ serta ‘menciptakan’. Pembelajaran juga dilaksanakan dalam kelompok-kelompok kecil. Masing-masing kelompok diberikan sebuah alinea yang berbeda-beda dan ditugaskan untuk menilai kelebihan dan kekurangan serta membuat rekomendasi tentang unsur dan bagian yang perlu diedit dan direvisi untuk membuat alinea tersebut lebih baik. Masing-masing kelompok kemudian diminta mempresentasikan hasil evaluasi mereka, dan kelompok lain menanggapi. Setelah itu, setiap kelompok diminta menulis sebuah alinea tentang topik tertentu dengan menerapkan kriteria dan langkah-langkah yang telah dipelajari sebelumnya. Pembelajaran diakhiri dengan meminta setiap kelompok mempresentasikan alinea masing-masing dan menjelaskan langkah-langkah yang mereka tempuh untuk menghasilkan alinea itu, sedangkan kelompok lain dan guru memberikan umpan balik yang diperlukan. Setelah itu, setiap kelompok mengedit dan merevisi alinea masing-masing dan mempublikasikannya (di majalah dinding atau di blog kelas).

Pembelajaran kemudian dilanjutkan ke tahap empat. Pembelajaran dilakukan di LMS, dengan menugaskan setiap siswa menulis sebuah alinea dengan topik tertentu. Draf alinea setiap siswa diposting di platform diskusi LMS. Siswa kemudian saling memberi umpan balik terhadap setiap alinea. Jika diperlukan, guru juga ikut memberikan umpan balik. Setiap siswa kemudian mengedit dan merevisi alinea masing-masing dan memposting hasil editan itu di platform diskusi. Seluruh siswa kemudian diminta kembali untuk saling memberikan umpan balik. Setelah diedit dan direvisi kembali, alinea yang sudah memenuhi syarat dipublikasikan di blog kelas dan/atau blog pribadi siswa (jika ada).

Salah satu kelemahan pembelajaran di sekolah-sekolah di Indonesia selama ini sebenarnya terkait dengan kecenderungan melaksanakan pembelajaran hanya sampai pada tahap memperoleh dan menyimpan informasi. Dilihat dari sisi Taksonomi Bloom, aktivitas pembelajaran hanya didominasi oleh LOTs, Mengapa? Sebagian sekolah hanya melaksanakan pembelajaran yang berorientasi kepada ujian. Praktik ini begitu dominan khususnya ketika ujian nasional (UN) masih diberlakukan. Karena UN bersifat high stakes—berfungsi sebagai penentu kelulusan dan penerimaan siswa di jenjang pendidikan selanjutnya serta menjadi tolok ukur utama bagi kualitas sekolah-- kebanyakan guru, siswa dan orang tua akan melakukan “segalanya” untuk UN. Dalam pembelajaran, banyak guru yang sengaja hanya mengajar untuk mempersiapkan siswa menghadapi ujian (teach for test). Topik yang diajarkan disominasi oleh bagian-bagian mata pelajaran yang diperkirakan akan termasuk dalam soal-soal ujian. Aktivitas fokus pada kegiatan menghapal dan melatih mengerjakan soal-soal. Tujuannya, agar siswa lebih siap menghadapi ujian (Pardede, 2020). 

Akibat dari pembelajaran yang dibatasi hanya melibatkan LOTs itu sangat merugikan. Walaupun siswa dapat mengerjakan soal-soal UN dengan skor tinggi, penalaran, kemampuan berpikir kritis dan kreativitas mereka sangat terbatas. Ketika berkompetisi dengan siswa maupun lulusan dari negara lain, siswa dan lulusan dari sekolah di Indonesia cenderung berada di urutan terbawah. Sebagai contoh, survei Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2009-2018 menunjukkan kompetensi pelajar Indonesia secara konsisten berada di urutan 10 terbawah. Lalu, Survai Willis Towers Watson tahun 2014 hingga 2017 mengungkapkan 80% perusahaan di Indonesia kesulitan mendapatkan lulusan perguruan tinggi dalam negeri yang kompeten. Padahal, perguruan tinggi di Indonesia meluluskan 250 ribu alumni setiap tahun.


Silahkan lanjutkan membaca bagian ketiga modul ini, Mengembangkan"4Cs" dalam "Blended Learning"

Comments

Popular posts from this blog

Flipped Classroom: Model Pembelajaran Campuran yang Efektif

Pendahuluan
Flipped classroom adalah inovasi metode pembelajaran terbaru di era dijital. Metode ini merupakan salah satu model blended learning yang begitu efektif hingga para pendidik yang sedang mempersiapkan diri melaksanakan blended learning direkomendasikan untuk menggunakannya. Penelitian mengungkapkan metode ini sangat efektif untuk mengubah siswa dari pasif menjadi menjadi aktif, dari pembelajar yang ‘ogah-ogahan’ menjadi bertanggungjawab untuk menguasai konten pembelajaran, karena metode ini mengaktivasi dan mengembangkan keterampilan berpikir siswa, baik secara mandiri maupun kolaboratif. Dengan metode ini, guru lebih berperan sebagai fasilitator, pembimbing dan motivator. 

Hakikat Flipped Classroom Sesuai dengan namanya, ‘flipped’, yang bermakna ‘membalikkan pola, posisi, urutan, susunan, atau arah sesuatu, flipped classroom merupakan metode pembelajaran yang membalikkan atau mengubah pola pembelajaran tradisional. Karena kata ‘flipped’ bersinonim dengan ‘inverted’, flipped cl…

Terrorized by Coronavirus Pandemic: Do we need Superheroes?

We need superheroes because their role models motivate us to be aware that any of us is capable of becoming a superhero, and by collaborating, we can fight any disaster that threats the world.
The coronavirus hit the world by surprise and keeps on spreading like wildfire across the globe. Only in four months, it has been affecting more than 200 countries and territories around the world, infecting more than 2 million people and killed more than 140,000. To limit the number of people’s exposure to the virus to slow down its spread, some countries or zones are locked down, offices, schools, and public places are shut, and our lives are on hold. Many people are despondent because they cannot meet their beloved ones. Some others are depressed about being unable to do the routines they used to have. Some even think their freedom is robbed.

The sheer terror and horror of this fast-moving infection are intensified when we hear that the number of death it causes keeps on increasing so sharply t…

In times of Coronavirus pandemic, we can make a difference.

Practicing kindness to others not only enables us to make a difference but also makes us happier and stimulates others to perform kindness.
COVID 19 hit the world by surprise and is quickly spreading like wildfire across the globe. Up to the time this article was written, it has been infecting more than 3 million people, causing more than 200,000 deaths, and sending billions of people into the stay at home or lockdown to help 'flatten the curve' of infections. And since it is a new virus, we now have only relatively limited information about it and there is no yet vaccine or preventative treatment for it. Having limited knowledge and seeing its devastating effects, it is understandable why people are anxious and frightening. 

What can we do in such a critical moment? Should we just let our governments do everything? No! Precisely while facing a radical crisis and when survival is threatened by an insurmountable problem that we have a great opportunity to do good to make a differ…